Bagaimana Rasanya Berhasil Hamil? Ini Curhatan Seorang Netizen…

Posted on

Menjadi Calon Ibu adalah salah satu hal terbesar dalam hidup. Rasa bahagia membuncah di dalam diri, menjadi tangis yang mengharu-biru, membuat hidup terasa berada di alam surgawi. Berikut ini adalah curhat seorang netizen Makassar, Ibu Viki Wulandari, yang telah menikah hampir 2 tahun.

Selamat membaca …

Mommy Soon To Be (Part 1)

Sudah isi, belum? Kapan hamil? Coba cek ke dokter. Eh, kapan mau punya anak? Itu barengan nikahnya sama kamu sekarang anaknya sudah gede. Setelah hampir 2 tahun? Yes, i will be a Mom insyaa Allah!

Itu adalah contoh pertanyaan dan pernyataan yang annoying sekaligus stressful question buat pasangan yang sudah cukup lama menikah tapi belum juga ada kabar hamil. Kalau ditanya kapan hamil? Saya cuma mbatin, “Lah, ya mana saya tahu”. 😂

Saya awal-awal pernikahan sedikit terganggu dengan pertanyaan itu, tapi semakin kesini dan saya semakin tenggelam dengan sibuk kuliah, sudah tidak lagi pusing dengan hal ini. Malah Mamak yang sering curhat ditanya terus sama orang-orang kapan saya hamil. Sabar, Mak?!

Selama ini saya juga tidak pernah menodong balik pertanyaan-pertanyaan itu. Paling banter hanya senyum dan meminta doa dari mereka agar diberikan yang terbaik. Butuh waktu cukup lama untuk saya terbiasa. Yang bisa saya lakukan hanya tetap berpikir positif dan bersangka baik pada Allah. Barangkali, saya dan suami diberi kesempatan untuk menyelesaikan kuliah kami berdua yang belum rampung sampai saat ini, baru kemudian akan diberi kado spesial. Barangkali kami akan sangat kerepotan kalau dikasihnya sekarang. Dan sugesti barangkali-barangkali lainnya yang bikin semuanya jadi ringan dijalani. Toh, saya juga masih muda. Uyeaahh… Yang ini kadang bikin saya balik mood dengan mudah 😍

Saya punya sudut pandang sendiri, bahwa tidak semua wanita yang telah menikah itu lantas siap untuk hamil. Termasuk saya. Awalnya saya menepis kenyataan bahwa ini hanyalah alasan dan pelarian saya saja untuk menangkis pertanyaan konyol tadi, tapi ini nyata terjadi pada diri saya sendiri.

Bagi saya, menjadi ibu itu bukan perkara mudah dan tanggung jawabnya yang teramat berat. Saya hanya merasa belum siap dan belum pantas saja. Dapat predikat mamah muda itu cukup cute, tapi buat apa kalau hanya untuk gaya-gayaan saja. Yakan?

Setahu saya, anak kecil itu kalau mau dibawa kemana-mana selalu rempong dan menyulitkan. Sementara saya sedang on fire meraih mimpi yang sudah ada di depan mata. Please… Jangan memaksakan untuk jadi keren dengan punya baby lalu menelantarkannya demi prestasi (dan keegoisan saya sendiri).

Saya hanya tidak ingin beban memiliki anak ini membawa saya pada kehidupan rumah tangga akhirnya berantakan. Menyenangkan orang-orang sekitar dan keluarga besar, mungkin iya. Tapi mereka hanya akan mengucapkan congrats dan syukur paling lama seminggu selepas kelahiran. Tapi setelahnya? Saya dan suamilah yang bakal merasakan semuanya. So, buat apa susah-susah dan ngotot hamil hanya untuk itu? Toh, yang paling penting adalah komitmen saya dan Mas sebagai partner hidup. Dia juga tidak pernah rewel soal anak walau dalam hatinya saya tahu dia menginginkan seorang bayi, jaauh di dasar hatinya. Yang kadang diungkapkan di sela-sela kami ngobrol berdua.

Kata orang, rumah tangga seharmonis apapun tidak akan lengkap tanpa anak. Am i right? Tapi kenyataannya, ada pasangan yang abadi tanpa ada anak sampai mereka meninggal. Rasulullah dengan Aisyah juga tidak punya anak, tapi kisah cinta rumah tangga mereka, nyatanya mampu bikin jomblo-jomblo pada baper. 💔
Justru ada pasangan yang cekcok tiap hari bahkan bercerai hanya karena kehadiran anak itu sendiri.

Mungkin saya terpikir egois dan tidak bertanggung jawab. Menikah tapi tidak mau mempunyai anak. Tapi saya berpikir, saya akan jadi lebih egois dan tidak bertanggung jawab apabila anak saya justru terlantar karena ketidaksiapan saya. Kehamilan yang diinginkan adalah sebuah pilihan dan kebebasan tersendiri menurut saya.

Sampai usia kehamilan 7 minggu, saya tidak melakukan tes kehamilan. Saya masih berharap tamu bulanan saya hanya telat. Hingga mual dan ‘selalu sakit’ tiap malam semakin tidak bisa saya tepis. Mas menyarankan beli test pack, dan akhirnya saya nurut. Karena waktu itu gak ada kembalian, oke beli dua juga gak apa-apa deh.

Pukul 2.30 hampir tepat, saya bangun dan iseng tes sendiri. Mas sudah tidur pulas. Detik-detik sangat mendebarkan buat saya, dan wallahi waktu itu langsung keringat dingin dan berdebar sangat kencang saat dua garis muncul dengan tegas, tidak samar-samar sama sekali. Beberapa detik saya merasa suasana begitu sunyi, satu-satunnya suara yang bisa saya dengar hanya napasku yang terhela, mirip adegan sinetron di tv-tv itu. Antara takut, sedih, sedikit senang, entahlah. Saya lalu memutuskan sekalian ambil air wudhu lalu sholat. Mata saya sudah berurai air mata. Pertanyaan yang mengiang-ngiang waktu itu: Sekarangkah waktu yang tepat, yaa Allah? Benarkah saya telah Kau pandang layak menerima ini semua?

Paginya semuanya berjalan seperti biasa. Saya masih ke kampus, semuanya masih berjalan normal. Saya seperti kehabisan cara untuk mengatakan, “Saya hamil” di depannya. Kok rasanya malu-malu gengsi gitu ya. 😁😁

Dua pekan berjalan masih seperti biasa dan ‘nightsickness’ (bukan morningsickness) yang terus-terusan, dengan dia yang semakin khawatir. Akhirnya dia mempertanyakan, kenapa test pack yang dibeli tempo hari tinggal satu. Dia mulai menyadari ada satu test pack yang hilang. “Hon, kok test pack nya saya taruh dsini tinggal satu. Satunya mana?”. Duh, apa iya, sekarang bilangnya. Sempat memutuskan tidak menjawab, dan akhirnya dia curiga. Kami tertawa aneh. “Itu, di dalam lemari depan”, jawabku pasrah.

“Hasilnya apa??”, dia penasaran dan antusias setengah mati.
“Alhamdulillah ya Allah”. Dan dia menjawab pertanyaannya sendiri. Lah saya ngapain? Malah mewek. 😭
Entah karena terharu liat dia senang, atau nangis takut hamil atau apa. Yang jelas pengen nangis aja. Berhari-hari saya masih tidak mau menerima kenyataan ini. Tidak ada yang tahu saya hamil kecuali Mas. Saya pun mengeluarkan ultimatum keras agar tidak mengumumkannya kepada siapapun, termasuk orang tua kami.

Lah terus, sebenarnya kamu ini mau punya anak atau tidak? Ya mau. Hanya saja saya mesti bermusyawarah dengan Allah dan merengek minta diberi ketetapan hati. Hanya butuh waktu 2 bulan sejak saya mulai berazzam untuk merubah haluan dan cara pikir saya yang dulu, meski masih maju mundur. Alhamdulillah wa syukurillah. Now 17 weeks of pregnancy. Masyaa Allah.

Perubahan pola pikir ini tidak melalui proses yang bimsalabim. Ini adalah jalan panjang yang saya sangat bersyukur diberi teman di perjalanan jauh ini, partner sebaik Mas. Thank you, dear. 😘

Mommy Soon To Be (Part 2)

Alhamdulillah wa syukurillah.. Kian hari makin mantap merubah pola pikir yang dulu: punya baby bakal merepotkan seisi rumah tangga. Semakin kesini dan tiap kali Mas, Mamak atau Bapak dan mertua terdengar kabar sedang tidak enak badan, saya merenung bahwa umur dan kemampuan fisik kami semua terbatas. Meski saya juga tahu bahwa syarat mati tidak harus tua atau sakit. Lalu saya terbersit, kalau bukan saya sendiri yang mau merubah mindset, terus mau sampai kapan?

Perempuan punya menopause dan usia adalah misteri. Jujur saya tidak punya target usia berapa dan berapa. Hamil di usia yang tidak lagi muda jelas punya resiko yang lebih tinggi. Lagipula saya sangat ingin Mamak melihat saya menjadi seorang ibu dan saya melihatnya kelak ikut merawat anak saya juga.

Usaha lainnya untuk memantapkan hati dan menyudahi galau ini adalah menghindari tulisan-tulisan ‘penghasut’ yang membandingkan antara wanita single vs emak-emak rempong. Saya mulai selektif membaca tulisan dan motivasi bahwa pelukan seorang anak kecil adalah kebahagiaan terbesar seorang perempuan. Yup, and i waiting for you, baby! 😘

Lalu tentang ketidaksabaran saya menghadapi anak, bukankah saya selama ini dikaruniai seorang teman hidup yang mampu mengingatkan tentang hal itu. Kenapa saya tidak berkolaborasi dengannya untuk sepakat membesarkan anak kami bersama-sama, meski kami tidak tahu masa depan akan seperti apa nantinya.

Setelah merenung dan berpikir cukup lama, akhirnya saya mantap dan berniat, bismillah (walau kadang masih maju mundur). Allah lagi-lagi amat menyayangi kami berdua. Awal Februari lalu, pertemuan saya secara tidak sengaja dengan dokter Amel di sebuah RS besar di Makassar dalam sebuah seminar mampu membalik paradigma berpikir saya seketika. Saya merasa di hari itulah, momen ketika batin saya teraduk-aduk hendak ditunjukkan kuasa oleh Allah.

Disana rupanya ada klinik IVF (In Vitro Fertilization) atau bayi tabung. Ini mah biasanya ada di buku pelajaran saja. Sekarang nyata saya memasukinya. Isinya? Masyaa Allah, pasangan-pasangan yang sudah belasan bahkan puluhan tahun menanti buah hati dan datang berikhtiar untuk melakukan IVF yang terkenal mihil itu. Mahal kalau langsung berhasil ya mungkin gak masalah. Lah ini, sudah mesti berani bertaruh dana, keberhasilannya juga belum bisa digenggam.

Di akhir sesi, seorang ibu-ibu mengajukan pertanyaan (yang kedengarannya lebih mirip pernyataan ‘saya mesti gimana lagi?’) dengan semua usaha dan hartanya yang telah dikerahkan demi hadirnya bayi dalam rahimnya dan semuanya gagal, sambil berurai air mata. Kami di ruang seminar itupun hanyut seakan merasakan apa yang ibu itu rasakan. Suaminya tampak menggamit tangannya berusaha menguatkan.

Teringat lagi di video yang dishare di linimasa sosial media hadir di sebuah talkshow, Hanum Salsabiela Rais yg menceritakan buku barunya, ‘I am Sarahza’ yang bikin saya membuka ingatan lagi. Di luar sana, ada orang yang sampai 6 kali IVF dan 4 kali inseminasi hanya untuk menumbuhkan janin di dalam perutnya. Subhanallah. Betapa sesungguhnya sekarang ini saya sedang diberi nikmat yang tak terkira jika mau dirupiahkan.

Hari itu rasanya adalah jawaban atas permintaan saya pada Allah. Diperlihatkan betapa mereka begitu menginginkan harta yang tidak bisa terbeli dengan uang. Sedangkan di tempat lain, saya masih berpikir bahwa punya anak itu menyusahkan. Astagfirullah…

Mulai detik ini juga saya jadi sering belajar tentang tips agar kehamilan dan persalinan nyaman dan tidak terlalu menyakitkan. Saya menghindari video-video yang memuat konten persalinan yang berdarah-darah. Selain bikin ngeri, ini juga bakal bikin mindset saya terpola negatif dan lebih cemas. Meski saya tahu, tidak pernah ada cerita bahwa melahirkan itu painless dan tidak berdarah. Saya berusaha mensugesti diri sendiri bahwa tubuh perempuan telah dirancang well design untuk melahirkan, dan nyatanya seluruh ibu di dunia ini mampu melaluinya. Saya pasti kuat! Saya pasti bisa! Insyaa Allah. Sehat-sehat terus ya, Nak!

Usaha mengusir keraguan ini saya barengi juga dengan sering msnggendong baby-baby lucu yang Masyaa Allah menyejukkan hati. Termasuk juga follow akun baby-baby imut seperti @just.baby yang cute abis.

Lagi-lagi saya bersyukur diberi partner yang tidak hanya oke diajak kerja tugas kuliah dan tesis, tapi juga berbaik hati ‘menerapi’ hati saya yang kadang masih maju mundur. Dia sering mengajak saya mojok beberapa lama di tempat baju baby terpajang di mall, toko, yang setiap wanita pasti gemas dan tidak sabar menimang buah hati. Dia juga yang berinisiatif membelikan buku persiapan kehamilan, dan menjadi satpam paling awas atas jadwal minum vitamin dan nutrisi, psikologi dan fisik saya.

Tidak lupa, yang paling penting bagi seluruh calon ibu adalah bekal ilmu. Saya mulai membuka-buka kembali bab fadhilah dan keutamaan ibu yang mengandung dan melahirkan. Pahala yang setara dengan jihad ini membuat saya tegar dan mulai berdamai dengan diri sendiri bahwa Allah selalu ada di setiap perjuangan. Allah tidak akan mungkin membiarkan semua kesulitan dan kepayahan ini menjadi sia-sia. Saya percaya dan yakin bahwa Allah sedang ingin memberi saya ladang pahala yang luas. Insyaa Allah…

Suamiku,
Dan jikapun nanti rencana kita tak seindah yang diharapkan, jangan berhenti berharap dan jangan bersedih hati. Allah telah menjanjikan kabar gembira lainnya berupa syahid bagi akhir perjuangan ini. Bukankah syahid adalah akhir hidup terindah, yang selama ini kita damba dan pinta di setiap doa. Jadi, seharusnya tidak perlu ada ketakutan berlebihan lagi, karena keduanya adalah pilihan yang adil. Hidup bahagia dengan harum bau kasturi bayi, atau keindahan syahid di ujung perjuangan. Masyaa Allah, tabarakallah. ❤️

Makassar, 28 Syawal
Kala fajar waktu dhuha menyingsing.

Sumber : https://www.facebook.com/vq.wulandari/